Pernahkah Anda merasa lelah membuka media sosial? Kolom komentar penuh caci maki, grup WhatsApp penuh perdebatan, dan sesama saudara seiman saling serang hanya karena beda pilihan politik atau organisasi. Rasanya, kedamaian menjadi barang mahal hari ini.
Namun, lihatlah foto papan tulis sederhana di atas. Ada satu resep kuno dari Rasulullah SAW yang ditulis dengan spidol hitam, yang jika diamalkan dengan benar, bisa menjadi obat bagi “penyakit” umat zaman now.
Bunyinya singkat: “Afshu as-salam baynakum” (Sebarkanlah salam di antara kalian).
Terdengar sepele? Tunggu dulu. Dalam perspektif Muhammadiyah, hadits ini bukan sekadar perintah mengucapkan “Assalamualaikum”. Ini adalah kode etik sosial tingkat tinggi. Mari kita bedah.

1. Membedah Teks Hadits: Lebih dari Sekadar Sapaan
Sebagaimana tertulis di papan tulis tersebut, hadits lengkapnya diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Ibnu Majah. Rasulullah SAW bersabda:
“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)
Kata kuncinya adalah “Afshu” yang berarti menyebarkan atau mempopulerkan. Bukan sekadar “mengucapkan”.
2. Pandangan Muhammadiyah: Salam sebagai “Sistem Keamanan Sosial”
Dalam kultur dan pemahaman Muhammadiyah yang menjunjung tinggi Islam Berkemajuan, ibadah tidak pernah lepas dari dimensi sosial (Hablum Minannas).
Menurut pandangan tokoh-tokoh Tarjih dan pemikiran Muhammadiyah, “Salam” (As-Salam) adalah salah satu nama Allah yang berarti “Maha Pemberi Keselamatan”. Ketika kita mengucapkan salam kepada orang lain, kita sedang melakukan dua hal sekaligus:
- Doa: Mendoakan keselamatan bagi lawan bicara kita.
- Jaminan Keamanan (Garansi Sosial): Ini poin pentingnya. Bagi warga Muhammadiyah, menyebarkan salam berarti memberikan garansi bahwa: “Kamu aman dari gangguanku. Lisanku tidak akan menyakitimu, tanganku tidak akan melukaimu, dan sikapku tidak akan merugikanmu.”
Jadi, sangat kontradiktif jika ada orang yang rajin mengucapkan “Assalamualaikum” di masjid, tapi di media sosial jempolnya rajin menyakiti hati orang lain (bullying/ghibah). Itu bukan semangat Muhammadiyah.
3. Implementasi “Afshu Salam” di Era Digital
Bagaimana cara mengamalkan tulisan di papan tulis itu hari ini?
- Sapa Duluan, Jangan Tunggu Disapa: Dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) bab Akhlaq, inisiatif untuk berbuat baik selalu ditekankan. Jangan gengsi menyapa duluan, baik kepada sesama warga persyarikatan maupun yang berbeda organisasi.
- Salam = Stop Hoax & Ujaran Kebencian: Menyebarkan salam berarti menyebarkan kedamaian. Jika Anda meneruskan (forward) berita bohong yang memicu keributan, Anda sedang melawan prinsip “Afshu Salam”.
- Inklusivitas: Rasulullah menyuruh menyebarkan salam kepada orang yang kita kenal DAN yang tidak kita kenal. Ini adalah wujud ukhuwah islamiyah yang melintasi batas kelompok.
4. Pelajaran dari Papan Tulis Sekolah Muhammadiyah
Foto di atas kemungkinan diambil dari suasana pendidikan dasar (TPA/Madrasah). Ini mengingatkan kita pada metode pendidikan Muhammadiyah yang menanamkan karakter sejak dini.
Anak-anak diajarkan bukan hanya menghafal huruf Arabnya, tapi memahami artinya: Sebarkanlah. Sebuah kata kerja aktif. Muhammadiyah adalah gerakan amal usaha (action oriented). Maka, damai itu harus diusahakan, harus disebarkan, bukan ditunggu.
Kesimpulan: Mulai dari Hal Kecil
Tulisan spidol di papan putih itu mungkin akan dihapus esok hari untuk diganti pelajaran lain. Tapi, esensinya harus terpatri abadi di hati kita.
Mari kita jadikan diri kita sebagai “agen perdamaian”. Di kantor, di pasar, di rapat RT, hingga di kolom komentar Facebook/TikTok. Buktikan bahwa kehadiran kita membawa kesejukan, bukan kepanasan.
Siap menyebarkan salam hari ini?
“Punya pengalaman menarik tentang kekuatan sebuah ucapan salam? Atau punya pandangan lain? Yuk, diskusi santai di kolom komentar di bawah!”






Leave a Comment