Menikah Bukan untuk Bahagia? Ustadz Oemar Mita: Tujuan Utama Adalah Ridho Allah

Jauhari

0 Comment

Link
Tujuan Utama Adalah Ridho Allah

Dalam budaya populer, pernikahan sering digambarkan sebagai gerbang menuju “kebahagiaan selamanya.” Namun, Ustadz Abu Bassam Oemar Mita dalam ceramahnya yang mendalam memberikan perspektif yang berbeda namun sangat mengakar dalam ajaran Islam. Menurutnya, framework atau pola pikir yang menganggap tujuan menikah hanyalah untuk bahagia bisa menjadi jebakan yang menyiksa jiwa.

Mengapa demikian? Karena jika kebahagiaan menjadi standar tunggal, maka saat konflik datang, rumah tangga akan dianggap gagal. Padahal, pernikahan dalam Islam adalah sebuah ibadah dan ujian.

Tiga Pilar Rumah Tangga yang Berkah

Ustadz Oemar Mita menjelaskan bahwa rumah tangga seorang muslim harus dibangun di atas tiga fondasi utama:

  1. Alas Kesabaran: Menghadapi ujian pasangan tanpa tepi [04:40].
  2. Tiang Kesyukuran: Mensyukuri setiap nikmat keluarga tanpa syarat [04:40].
  3. Atap Keridaan: Menerima setiap ketetapan Allah tanpa batas [04:40].

Menikah Adalah Ibadah dan Ujian

Beliau menekankan bahwa tidak setiap orang saleh akan mendapatkan pasangan yang menyenangkan (cita rasa sahabat). Ada kalanya Allah menguji orang saleh dengan pasangan yang sulit, sebagaimana Nabi Nuh AS diuji dengan istrinya atau Asiah binti Muzahim diuji dengan Firaun [26:19].

Tujuannya bukan untuk menyiksa, melainkan untuk:

  • Memberikan Pahala Sabar: Sebagaimana malaikat akan menyambut penduduk surga dengan ucapan “Salamun alaikum bima shobartum” (Selamat atas kesabaran kalian) [08:21].
  • Menggugurkan Dosa: Ujian melalui pasangan seringkali menjadi cara Allah merontokkan dosa-dosa masa lalu kita di dunia, agar kita kembali dalam keadaan bersih [31:54].

Ketenangan (Sakinah) Adalah Modal bagi Anak

Meskipun tujuan besarnya adalah ibadah, Islam tetap menjanjikan ketenangan (litaskunu ilaiha). Ketenangan antara suami-istri sangat krusial karena merupakan modal utama mendidik anak yang Qurrata Aโ€™yun (penyejuk hati) [43:51].

Ustadz Oemar Mita menyoroti bahwa banyak orang tua zaman sekarang belajar ilmu parenting namun anaknya tetap bermasalah, karena orang tuanya tidak harmonis. Sebaliknya, orang tua zaman dulu yang minim teori parenting seringkali sukses mendidik anak karena rumah tangganya tenang dan damai [48:46].

“Bukan petir dan halilintar yang menumbuhkan benih, tapi heningnya air hujan yang menumbuhkan benih. Begitu pula kualitas anak, tumbuh dari ketenangan orang tuanya.” [47:05]

Kesimpulan

Mari luruskan framework kita: Menikah bukan sekadar festival cinta atau mengejar kebahagiaan ala drama Korea [40:17]. Menikah adalah perjalanan meraih ridho Allah melalui sabar saat diuji dan syukur saat diberi kelapangan.


๐Ÿ”— Video Sumber: Simak kajian lengkapnya di sini: Bukan Bahagia yang Menjadi Tujuanmu Menikah, Tapi Ridho Allah | Abu Bassam Oemar Mita

Sumber Foto Image by Ihor pilatus from Pixabay

Share:

Related Post

Leave a Comment